Oleh: cakudik | 6 Mei 2012

Guru (Mursyid)

Barang siapa yang berilmu, beramal dan mengajarkan, berarti ia merupakan orang yang disebut sebagai hamba mulai di kerajaan langit. Ia bagaikani matahari yang menerangi orang lain dan menerangi diri sendiri. Ia bagai minyak wangi yang membuat orang lain ikut harum dan mengharumkan diri sendiri.
Sebaliknya orang yang berilmu namun enggan mengamalkannya, bagaikan buku yang memberi manfaat, sedang ia sendiri sepi dari ilmu. Bagaikan batu asahan yang menajamkan tetapi ia tidak mampu memotong.
Sewaktu-waktu orang sibuk mengajar, dengan demikian ia menanggung perkara yang agung dan kekhawatiran yang besar. Karena itu ia harus menjaga adab dan tugas-tugasnya.
Adapun tugas-tugas dari seorang Guru (Mursyid) adalah :

  1. Berbelas kasih kepada murid dan hendaknya memperlakukan seperti anak kandung sendiri. Rasululloh saw bersabda , “Aku ini terhadap kalian hanyalah semisal orang tua kepada anak-anaknya.” Artinya, bermaksud menyelamatkan mereka dari api neraka di akhirat kelak.
  2. Hendaknya Guru (mursyid) mengikuti syara’ Muhammad saw. sehingga dapat mengajarkan ilmunya bukan untuk mencari penghasilan dan tidak bertujuan mencari balas jasa, tidak pula ingin dipuji, melainkan hanya mengharap ridlo Alloh.
  3. Hendaknya seorang Guru (Mursyid) harus benar-benar berusaha agar muridnya menjadi baik dalam menguasai ilmu. Jangan sekali-kali memberi ilmu yang tersembunyi sebelum ilmu yang nyata dikuasai oleh murid. Hendaknya sering mengingatkan kepada muridnya bahwa menuntut ilmu itu tujuannya ialah untuk mendekatkan diri kepada Alloh, bukan untuk mencari kedudukan atau kebanggaan. Jika seorang Guru (Mursyid) mengetahui muridnya belajar hanya untuk kepentingan duniawi, maka hendaknya Guru (Mursyid) memeriksa ilmu apakah yang dipelajari oleh muridnya. Jika ilmu khilafiyah dalam fiqh dan ilmu perdebatan dalam ilmu kalam, maka segera Guru (Mursyid) melarangnya.
  4. Seorang Guru (Mursyid) hendaknya mencegah murid dari akhlak yang buruk. Sedapat mungkin menyindir atau menegur dengan cara belas kasih; jangan mengejek atau mempermalukannya. Sebab menerangkan keburukan akhlak itu membuka rahasia murid dan ia akan berani melawan gurunya.
  5. Seorang Guru (Mursyid) yang menekuni suatu ilmu hendaknya jangan menjelek-jelekkan ilmu lain yang tidak dipelajari. Misalnya seorang Guru (Mursyid) memiliki keahlian di bidang fiqh hendaknya jangan meremehkan dan menjelek-jelekkan ilmu hadis dan tafsir.
  6. Hendaknya Guru (Mursyid) membatasi murid dalam memberikan pelajaran. Disesuaikan dengan kadar pemahamannya . Jangan menyampaikan sesuatu yang akalnya tidak sampai memikirkannya.
  7. Terhadap murid yang bodoh hendaknya Guru (Mursyid) memberi pelajaran yang nyata sehingga mudah dipahaminya. Jangan memberikan pelajaran hakikat yang rumit dan sulit dimengerti.
  8. Hendaknya Guru (Mursyid) mengamalkan ilmu yang dimilikinya sehingga perbuatannya (akhlaknya) tidak bertentangan dengan apa yang disampaikan kepada murid-muridnya. Sehingga pula tidak dikatakan sebagai orang yang pandai bicara tapi tidak mampu mengamalkannya.

Referensi : Ihya’ Ulumuddin oleh Imam AL Ghazali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: