Oleh: cakudik | 24 Mei 2012

Konsep Pembelajaran Dalam PMRI

Sebagaimana dijelaskan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan pendekatan pembelajaran matematika yang diadopsi dan diadaptasi dari Realistic Mathematics Education(RME) yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Hans Freudenthal di Belanda sejak 40an tahun silam. Di dalam PMRI, pembelajaran harus dimulai dari sesuatu yang riil sehingga siswa dapat terlibat dalam proses pembelajaran secara bermakna. Dalam proses tersebut peran guru hanya sebagai pembimbing, mediator, dan fasilitator bagi siswa dalam proses rekonstruksi ide dan konsep matematika. De Lange (1994) menggambarkan pembelajaran matematika dalam RME sebagai ‘the art of unteaching’. Gravemeijer (1994) menyebutkan bahwa peran guru juga harus berubah, dari seorang validator (menyatakan apakah pekerjaan dan jawaban siswa benar atau salah), menjadi seorang yang berperan sebagai pembimbing yang menghargai setiap kontribusi (pekerjaan dan jawaban) siswa.

Pembelajaran matematika dengan pendekatan RME meliputi aspek-aspek berikut (De Lange, 1995):

  1. Memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna;
  2. Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut;
  3. Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan;
  4. Pengajaran berlangsung secara interaktif: siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain; dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran.

Dalam PMRI siswa tidak dapat dipandang sebagai botol kosong yang harus diisi dengan air. Sebaliknya siswa dipandang sebagai human being yang memiliki seperangkat pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungannya. Selanjutnya, siswa juga memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuan tersebut bagi dirinya. Di dalam pembelajaran matematika diakui bahwa siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan pemahaman matematika apabila diberikan ruang dan kesempatan untuk itu. Siswa dapat merekonstruksi kembali temuan-temuan dalam bidang matematika melalui kegiatan dan eksplorasi berbagai permasalahan, baik permasalahan dalam kehidupan sehari-hari (daily life problems) maupun permasalahan di dalam matematika sendiri (mathematical problems). Berdasarkan pemikiran tersebut, PMRI mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut:

  1. Siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya;
  2. Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri;
  3. Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan;
  4. Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman;
  5. Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya, dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematika.

Paradigma baru pendidikan menyarankan pembelajaran aktif (active learning). Sebagaimana pribahasa China yang mengatakan: “Saya dengar, maka saya lupa; saya lihat, maka saya ingat; dan saya lakukan, maka saya mengerti”. Oleh karena itu, guru harus menghindari memberikan ceramah, tetapi harus mampu menciptakan dan mengembangkan pengalaman belajar yang mendorong aktivitas siswa. Bahkan di dalam PMRI diharapkan siswa tidak sekedar aktif (sendiri), akan tetapi ada aktivitas bersama diantara mereka, yang sering disebut dengan istilah interaktivitas. Untuk mendorong interaktivitas tersebut, guru tidak boleh terpaku hanya pada materi yang tertulis dalam kurikulum, akan tetapi selalu melakukan up-dating materi dengan persoalan-persoalan baru dan menantang. Jadi, peran guru dalam PMRI dirumuskan sebagai berikut:

  1. Guru hanya sebagai fasilitator belajar;
  2. Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif;
  3. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil; dan
  4. Guru tidak terpaku pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial.

Referensi:

de Lange, J. 1994. “Curriculum change: an American-Dutch perspective“. Dalam D.F. robitaille, D.H. Wheeler, & C. Kieran (Eds.), Selected lectures from the 7th International Congress on Mathematics Education, Sainte-Foy, Quebec: Le Presses De L’Universite Laval.

de Lange, J. 1995. Assessment: No change without problem. dalam T. Romberg (Eds.) Reform in school mathematics and authentic assessment. Albany NY: State University of New York Press.

Gravemeijer, K.P.E. 1994. “Developing realistic mathematics education“. Disertasi doktor, Freudenthal Institute.

Sumber : P4MRI STKIP HAMZANANWADI


Responses

  1. […] Pembelajaran PMRI […]

  2. […] Pembelajaran PMRI […]

  3. terimakasih banyak Pa…

    • Terima kasih kembali, semoga informasi di blog ini membawa manfaat bagi teman-teman guru.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: