Oleh: cakudik | 28 Juli 2012

UKG Online, Sekedarnya

Saat ini adalah detik-detik menjelang pelaksanaan UKG Online, semakin terlihat baranya dimana-mana, gaung menggema sampai ke relung-relung segala ruang, kebingungan dimana-mana, kegelisahan mengiringi gerak langkah, tidak ada saur dan buka puasa yang nikmat semua terassa hambar, gula terasa asin, garam terasa getir, tai kucing terasa coklat (kata Gombloh, bukan saya loh), pembelajaran tidak lagi efektif, anak didik terkapar ….. semua karena UKG ……

Mahluk opo to yo UKG kuwi ?

Memang gaung UKG sudah terasa sejak beberapa bulan lalu setelah mendapat kenyataan hasil pelaksanaan UKA yang hancur untuk guru-guru peserta sertifikasi tahun 2012 dan hancur lebur untuk pengawas, memang sebuah fenomena yang mengejutkan, bukan Pak Menteri saja yang terkejut, berbagai elemen masyarakat di Indonesia juga turut terkejut, karena bagaimanapun tingkat kepercayaan stakehorder terhadap pelaksanaan pendidikan di Indonesia akan terpengaruhi, apa artinya SSN, apa artinya RSBI, SBI dan program akselerasi ? kalau kenyataannya guru sebagai fasilitator dan agen pembelajaran kurang mumpuni. Bagaimana output-nya ? bagaimana outcame-nya ? betul-betul pekerjaan rumah yang cukup berat bagi Pak Menteri.

Yang terbersit pertama kali adalah “Pasti ada kebijakan yang salah dalam dunia pendidikan”, itulah yang sedang dicari saat ini dan bagaimana solusinya yang akhirnya memunculkan mahluk UKG ini.

Seperti yang telah kita ketahui besama bahwa sampai saat ini kebijakan tentang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) masih dilaksanakan meskipun terjadi protes dimana-mana, jawaban pemrintah sangatlah simpel, UN diperlukan karena amanat Undang-udang Sisdiknas dan hasilnya digunakan untuk pemetaan, untuk apa pemetaannya ?

Kebijakan tentang pemberdayaan sumber daya manusia pendidik dilakukan yang akhirnya ada Sertifikasi Guru, pelaksanaannyapun ssuai dengan UU Sisdiknas dan UU Guru dan Dosen, meskipun diluar dunia pendidikan menuai protes tentanghal ini, guru diglontor uang berupa tunjangan profesi pendidik (TPP) yang besarnya sama dengan gaji pokok kepangkatannya, tetapi mutu pendidikan tidak juga meningkat – kata mereka. Akhirnya dalam pelaksanaannya Sertifikasi Guru harus diawali dengan Uji Kompetensi Awal (UKA) yang fungsinya untuk menentukan siapa yang harus mengikuti PLPG an siapa yang tidak, selin itu hasilnya untuk pemetaan, untuk apa pemetaannya?

Dari segi kurikulum, sejak ditetapkannya kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) hiarapkan gairah pembelajaran dikelas bisa bangkit, karena satuan pendidikan dan guru tidak lagi di dikte oleh pusat dalam melaksanakan pendidikan dan pembelajaran, namun dalam kenyataannya untuk membuat dokumen KTSP (sekolah) masih banyak yang copy-paste milik sekolah lain, kalau sudah seperti ini apa artinya KTSP ?, dari sisi pendidik diharuskan membuat ssilabus dan RPP, tetapi kenyataan di lapangan juga masih banyak yang copy-paste, hanya ganti nama sekolah, nama kepala sekolah dan nama guru, terus apakah RPP itu sudah dijamin kesesuaaiannya dengan karakteristik sekolah dan peserta didiknya, kalau diingatkan oleh wakasek kurikulum, jawab sebagian dari guru “alah sing penting nggawe”, kalau sudah sperti ini maka wakasek kurikulum mati gaya.

Terkait dengan model-model pembelajaran, telah dicanangkan oleh kementerian pendidikan untuk menggunakan model-model pembelajaran yang efektif dan modern dalam pelaksanaan pembelajaran tekait dengan KTSP, namun kenyataan di lapangan, para guru yang melakukan pembelajaran bermodal RPP “ala sing penting nggawe” tadi mekipun dalam RPP-nya sudah dilengkapi dengan pemodelan dan mnggunakan metode pembelajaran yang modern masih melaksanakan pembelajaran tradisional dengan metode ceramah dan berbasis pada guru. Kata wakasek kurikulum “Hadow rekkkk …. “, hal ini masih didukung lagi dengan penggunaan LKS yang dikeluarkan oleh penerbit, wiiisss ngajar nggak cocok dengan RPP tapi cocok dengan LKS, seharusnya LKS itu ditulis sendiri oleh guru sebagai pendukung pelaksanaan RPP, jangan tergiur dengan iming-iming penerbit yang 30% – 35% dulur.

Dari berbagai fenomene inilah yang akhirnya pihak Kemdikbud menyelenggarakan Uji Kompetensi Guru, yang tujuannya dalah untuk pemetaan, untuk apa pemetaannya ?

Dari brbagai pemetaan itu digunakan oleh pemerintah khususnya Kemdikbud untuk mengambil suatu kebijakan nasional dalam  pendidikan, sehingga kebijakan-kebijakan itu tidak salah sasaran.

Sedang manfaat dari UKG untuk guru adalah minimal ada introspeksi atas dirinya bahwa seorang guru harus selalu mengemangkan dirinya, ingat pesan dari peyelenggara PLPG bahwa nanti kalau TPP-nya suah cair 10% – 20% digunakan untuk pengembangan diri untuk meningkatkan kompetensinya, bisa untuk meningkatkan kualifikasi pendidikannya dari S1 ke S2, dari S2 ke S3 atau untuk mengikuti seminar, workshop, pelatihan, kursus dan lain-lain yang sesuai dengan kompetensinya juga bisa pengadaan barang untuk mendukung kompetensinya bukan gengsinya seprti membeli Komputer, laptop dan lain-lain. Maksimal pihak pemerintah mengetahui guru-guru yang kompetensinya kuang akan di refresh dengan berbagai pelatihan dan workshop bisa juga mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk bea siswa, yang jelas banyak manaatnya UKG ini daripada mudhorodnya.

Ayo dulur-dulur kita sukseskan UKG dengan berbondong-bondong penuh kebahagiaan menuju TUK (Tempat Uji Kompetensi), jauhkan rasa takut dan  kuwatir, kerjakan UKG dengan penuh kenikmatan jangan berpikir “Piro engkok bijiku ?”, biji gak penting, biji piro-piro ditrimo wae, jangan terpengaruh dengan target Dinas Pendidikan, kerjakan sesuai dengan kemampuan dan jujur. Kalau Alloh ridho panjenengan dapat nilai baik maka nilai penjenengan akan baik, apabila menurut Alloh nilai baik akan menjadikan kejelekan atau menjadikan panjenengan sombong maka saya pecaya Alloh akan memberikan nilai dibawah batas standar.

Kalau sudah seperti ini maka Alloh menhendaki panjenengan menempati maqom “La hawla walakuwata illabillah”. …… Allohu Akbar !

Cekap semanten, kulo nyuwun pangapunthen menawi wonthen ucap kulo ingkang lepat lan nyuwil ati panjenengan, matur suwun.

Ditulis oleh : Marsudi Prahoro, S.Pd  alias Cak Udik (seorang wakasek kurikulum)


Responses

  1. Senasib Bro…..
    smoga tabah dalam menjalankan tugas wakasek kurikulum

    • Yah ada yang bernasib sama, ya begitulah Mas Bro kesulitannya wakasek kurikulum, setelah menyusun dokumen KTSP dengan susah payah rino-wengi dan disosialisasikan dalam workshop inservice di sekolah yang didapat “Ojo ndakik-ndakik” …. terus yok opo iki ? lek wis kenek UKG kaya ngene …. nabyak-nabyak ….. oyi mas bro ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: