Oleh: cakudik | 11 Januari 2013

Mendidik Anak Tanpa Bentakan

Merefleksi saat-saat awal saya jadi guru, banyak rekan yang mengatakan saya cukup tegas dan disiplin dan menghadapi anak didik. Memang sudah menjadi suatu “kemakluman” bersama bahwa karakter guru matematika itu seperti itu (tegas dan disiplin). Namun banyak kesalahan yang telah saya lakukan dalam menanamkan sebuah konsep pada anak didik sering saya iringi dengan bentakan-bentakan ….. Ya Alloh ampunilah aku ….

Kenapa bentakan-bentakan itu saya lakukan ? ternyata itu semua dikarenakan tidak mampunya saya sebagai guru pemula untuk mengendalikan kelas, dan mengendalikan emosi artinya bentakan-bentakan itu saya gunakan untuk menutupi kelemahan saya.

Akhirnya saya menjadi sosok yang ditakuti, ditolak dan mengakibatkan nilai matematika anak didik saya menjadi rendah karena mereka tidak suka dengan matematika.

Refelsi …… introspeksi ……

Refleksi harus dilakukan ! Saya coba merenung dan instrospeksi diri dan mencoba mencari literatur2 tentang pendidikan anak.

Dari beberapa literatur, membentak, pada anak akan sangat berefek pada psikologisnya, dia akan merasa tertekan dan akan memendam rasa tertekannya itu. Membentak bisa berpengaruh buruk pada anak-anak, karena bisa membuat renggang ikatan batin dengan anak, selain itu bentakan tidak mengajarkan apa-apa untuk perkembangan si kecil. Saat usia anak masih di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau balas membentak. Tetapi karena sikap pasif mereka itu, Anda jadi tidak bisa mengukur seberapa besar dampak psikologis yang ditimbulkan karena membentak. Anak cenderung untuk meniru perilaku guru sebagai orangtuanya atau orangtua sebagai gurunya. Seorang anak yang selalu dibentak, diomeli, atau dimarahi, akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dia sah-sah saja berkomunikasi dengan menggunakan bentakan, omelan, atau kemarahan.

Beberapa dampak yang diakibatkan dari MEMBENTAK ini adalah:
1. Anak saat dewasa menjadi minder & takut mencoba hal baru. Jiwanya selalu merasa bersalah sehingga hidupnya penuh keraguan dan tidak percaya diri.

2. Anak akan memiliki sifat pemarah, egois, judes karena dia dibentuk dengan kemarahan oleh orang tuanya. Jika ada hal yang tidak berkenan dihatinya karena sikap kawannya, dia cenderung agresif dan memarahi rekannya. Padahal masalahnya hanya sepele.

3. Anak akan memilki sifat menantang, keras kepala dan suka membantah nasehat atau perintah orang tuanya.

4. Anak akan memiliki pribadi yang tertutup dan suka menyimpan unek-unek nya, takut mengutarakan, karena takut dipersalahkan.

5. Anak menjadi apatis, sering tidak peduli pada suatu hal.

Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa, satu bentakan merusak jutaan sel-sel otak anak kita. Hasil penelitian Lise Gliot, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan), suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.

Penelitian Lise Gliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. “Hasilnya luar biasa, saat menyusui terbentuk rangkaian indah, namun saat ia terkejut dan sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian indah menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna. Ini baru teriakan,” ujarnya. Dari hasil penelitian ini, jelas pengaruh marah terhadap anak sangat mempengaruhi perkembangan otaknya. Jika ini dilakukan secara tak terkendali, bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak anak itu sendiri. “Makanya, kita harus berhati-hati dalam memarahi anaknya,” Tidak hanya itu, marah juga mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh. Tak hanya otak, tapi juga hati, jantung dan lainnya.

Kelekatan hubungan anak dan orang tua/guru sangat berpengaruh bagi perkembangan otak dan psycologisnya, tdk usah khawatir anak jadi cengeng dan manja. So.. Semoga saya tidak membentak lagi terutama pada umur 1-6 tahun si anak karena ini adalah “the golden age” yang dapat merusak kecerdasan emosionalnya.

Mari kita menjadi orang tua dan guru yang sabar dan bisa menghormati anak, berikan senyum, belaian lembut, sapaan yang santun …. semoga anak-anak kita … anak didik kita menjadi insan kamil, Aamin … mari kita mulai Bismillah….

Admin (Marsudi Prahoro, guru yang pernah salah)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: